Serang (ANTARA) - Status Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda hingga saat ini masih dalam siaga level III, yang menunjukkaan keadaan berbahaya di kawasan itu dan terlarang bagi pendakian.
"Sampai saat ini Anak Krakatau tertutup untuk umum menyusul terjadi kegempaan dan letusan," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Anton Tripambudi, saat dihubungi Selasa malam.
Menurut dia, intensitas kegempaan vulkanik dangkal, letusan, embusan, dan tremor Anak Krakatau hingga saat ini masih berlangsung setiap tiga sampai 15 menit.
Selama ini kondisi Anak Krakatau terus mengeluarkan "batuk-batuk" berupa lava pijar dan lontaran bebatuan krikil.
Lontaran bebatuan itu suhunya mencapai 1.000 derajat celcius.
Pengunjung dan nelayan hanya diberikan rekomendasi berada pada radius dua kilometer dari titik letusan.
"Saat ini Anak Krakatau masih status siaga," katanya.
Dia menjelaskan, sejak 6 Maret Anak Krakatau ditetapkan menjadi siaga level III, dan hingga kini status itu belum diturunkan.
Karena itu, pengunjung tidak diperbolehkan untuk mendekati atau melakukan pendakian.
Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi Bandung, Jawa Barat, menyatakan, status Anak Krakatau belum dicabut menjadi waspada level II.
Apalagi, saat ini frekuensi kegempaan dan letusan mencapai ratusan.
Sepanjang Selasa, gempa Anak Krakatau mencapai 286 kali, terdiri atas vulkanik dangkal satu, vulkanik dalam satu kali, letusan 159 kali, tremor 14 kali, dan embusan sebanyak 72 kali.
Kondisi demikian membuat kawasan Anak Krakatau yang ada di Selat Sunda sangat berbahaya, karena ancaman vulkanik berupa bebatuan krikil.
Oleh karena itu, pengawasa mengimbau pengunjung dan nelayan tidak mendekati kawasan Anak Krakatau tersebut.
"Hingga saat ini kami belum dapat memastikan kapan Anak Krakatau kembali normal," ujar Anton Tripambudi.
sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20090826/tid-anak-krakatau-masih-siaga-level-iii-f9ffe45.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar